"welcome to Pontianak"
is kind Khatulistiwa City 2011

adil ka' talino
bacuramin ka' saruga
basengat ka' jubata

awak datang, kame' sambot ka Kota Khatulistiwa

PONTIANAK TOURISM
is kind we in culture

Sabtu, 20 Oktober 2012

Mesjid Jami Sultan Abdurhman di kampung dalam bugis
awal mule berdirinye Kote Pontianak tercinte
selamat ulang tahun 241 dalam usia yang manis
semoge semue orang makin peduli same budaye..

Burung Punai terbang melayang
mencari makan ketemu padi
sungguh elok negeri abang
elok tambah pesone buat negeri

Sambal Cencalok Ikan Pindang
oleh-oleh emak dari Seberang Siantan
Hendak rakyat bersatu tak lain pandang
Buat negeri maju, tanpa bermain pedang

Tepat setahun lalu saya menulis tentang Sejarah Kota Pontianak. Tahn ini, saya masih mencari. Kira-kira apa yang bisa saya tulis buat kota ini. Tapi, sempat mengucap Selamat Ulang Tahun Kota Ponianak ke 241.
Harapan saya, semoga kamu makin baik dan adil dalam membina kerukukan bermasyarakat. Menemptkan semua yang ada sesuai dengan posisi dan kedarnya. Terimkasih..

"Ikan sepat ikan gabus...makin cepat makin bagus" siiiiiiippppppppp!!!!!

Minggu, 23 Oktober 2011

Selamat Ulang Tahun Kota Pontianak 240 Tahun (23 Oktober 1771-23 Oktober 2011)
“Tulisan ini merupakan kado “terindah” yang dapat saya berikan untuk Kota Pontianak tercinta yang sedang berulang tahun ke-240 hari ini.”
(bayuprakoso.iskindweinculture.blogspot.com.23oktober2011).
Semua gambar dan tulisan disini dicari (hunting picture) dan ditulis di hari ini :) :D
Pontianak...sebuah kota kecil di bagian Barat pulau Kalimantan yang merupakan ibukota dari Provinsi Kalimantan Barat. Dari namanya saja, orang-orang pasti dapat mengira jika “Pontianak” itu merupakan representatif dari nama hantu “Kuntilanak”. Ya, memang benar. Saking banyaknya hantu kuntilanak yang dulu dikenal dengan perompak jahat yang tinggal di sepanjang pesisir Sungai Kapuas, kota inipun diberi nama Pontianak yang diadapsi dari nama hantu tersebut.

(gambar atas: jembatan Kapuas 1 Pontianak. Pernah menjadi jembatan terpanjang di Indonesia pada tahun 1987. Diresmikan oleh presiden Soeharto pada 12 September 1987)
Masih penasaran? Ini dia sejarahnya...
Sungai Kapuas, merupakan awal masuknya Sultan Syarief Abdurrahman Alqadri untuk membuka basis kesultanan baru. Sultan Abdurrahman merupakan anak dari pasangan Habib Husein yaitu sultan atau pemimpin kerajaan Mantan (sekarang Mempawah) dan merupakan keturunan arab, ibunya Nyai Tua yang merupakan puteri dari Kerajaan Mantan (menurut catatan penulis Belanda JJK Enthoven, Nyai Tua merupakan Puteri Dayak yang telah menganut agama Islam).

Awal berdirinya kota Pontianak, sangat erat kaitannya dengan sungai Kapuas ini. Di zaman belanda dulu, sungai ini merupakan jalur transportasi yang menjadi jalur utama bagi kapal-kapal niaga lokal dan asing untuk masuk ke wilayah kerajaan-kerajaan Melayu di sepanjang pesisir Barat dan Selatan Kalimantan Barat. Daerah inipun sering dilalui kapal-kapal niaga dari Banjarmasin, Bugis, dan Sumatera, juga tak jarang kapal niaga dari Arab,China, Inggris, Belanda, Perancis dan India.
Sungai ini juga merupakan urat nadi kehidupan dan sumber air utama bagi daerah di muara-muaranya. Dari dulu hingga sekarang, pesisir sungai ini sudah dipenuhi oleh rumah-rumah penduduk yang dulunya merupakan rumah bagi pengawal, ataupun abdi kesultanan Pontianak. Disini, masyarakat hidup, mandi, mencuci dan MCK dari air  Kapuas, dan minum dengan air hujan yang di tampung (ditadah’ .bahasa Melayu Pontianak). Ciri khas dari pesisir Kapuas adalah keberadaan kampung sungai ( Kampong Laot=Kampung Laut,. Bahasa Melayu Pontianak ) dengan rumah yang saling dihubungkan dengan jembatan ( geretak’=jembatan. Bahasa Melayu Pontianak ) yang terbuat dari kayu ulin/kayu besi/kayu belian yang dulu banyak tumbuh di sepanjang Sungai Kapuas. Geretak/jembatan ini sangat panjang. Ia dibuat mengelilingi seluruh bagian kesultanan Pontianak di Kampung Dalam Bugis (dalam bahasa melayu sekitar disebut; Kampong Dalam Buges’) dari timur ke barat dan dari selatan ke utara. Yang paling terkenal adalah Kampong Be’te’ng atau Beting karena berada tepat di periran sungai / Muare Kapuas Kecil. Sitem perkampungan ini sama seperti kampung sungai yang ada di negara Brunei Darussalam, karena pada dasarnya Masyarakat Melayu yang hidup di daerah pesisir sudah menerapkan sistem Rumah Lanting (atau rumah yang mengapung di atas air, ditahan dengan kayu gelonggongan, ataupun ruang/tempat yang memiliki volume udara) dan rumah panggung yang memiliki struktur rumah tinggi berkolong-kolong, dengan berbentuk limas persegi, atau gudang, kubus, dengan beberapa tiang penyangga utama/tiang seri. Hingga tak jarang, masyarakat yang hidup disekitar pesisir sungai di Kalimantan, tepatnya di Kota Pontianak merupakan suku Melayu, walaupun juga sudah banyak yang berabaur dengan masyarakat suku lainnya, seperti Dayak dan Tionghua/ (Cina= dibaca Chai’nis’). (Melayu, Dayak, dan Tionghua merupakan tiga etnis besar yang tinggal dan menyebar di seluruh Kalimantan Barat).
Kembali ke PONTIANAK....:)
Sultan Abdurachman yang beranjak dewasa dan sering melintas perairan ini sangat ingin daerah daratan landai yang berlumpur itu menjadi daerah basis kesultanan barunya. Bukan karena ia berlumpur atau daratan yang sulit dibangun, tapi karena wilayahnya sangat strategis. Daerah ini diampit oleh 2 sungai besar dan satu anak sungai kecil, yaitu Sungai Kapuas Besar, Sungai Landak, dan Sungai ( atau Muare’. bahasa melayu Pontianak) Muare’ Kapuas Kecil.
Saat berusia 32 Tahun (menurut catatan Syarif Ahmad bin Sultan Syarif Abdurrahman Alqadri, yang berjudul Gesschiedenis der Alkadri, 1852) ia dilahirkan Senin tanggal 15 Rabiul Awal pukul 10 siang tahun 1151 H (1739 M), berarti usianya saat membuka kesultanan Pontianak di tahun 1771 adalah 32 tahun. Ia berniat membuka kesultanan sebagai basis kerajaan barunya. Di Kerajaan Mantan, ia merupakan anak sultan (Habib Huesin) yang sudah mendapatkan pendidikan yang sangat memadai, juga sering melakukan perjalanan laut,  pandai bermanufer dalam melakukan penaklukan  kapal-kapal niaga asing yang sering memberontak, pemberani, dan pantang menyerah.

Perjalanan dimulai dari Mantan (Mempawah)



        Perjalanan pertama dimulai dari Mantan, dengan menggunakan kapal atau perahu penjajab. Sebanyak 14 unit perahu Penjajab digunakan untuk membuka Delta Sungai (Kapuas). Perahu ini didapat sultan ketika hendak membebaskan kapal niaga orang Eropa (Prancis) berawak orang Benggali yang tertahan di Kerajaan Pasir, Banjarmasin. Awalnya Sultan ingin membeli semua barang-barang yang dibawa perahu ini berupa sultera, kain halus, dan candu. Namun, ketika awak kapalnya masuk, terjadi pemberontakan oleh  orang Prancis itu. Namun sayang orang Eropa dan kapten kapal tewas akibat perlawanan sultan, dan orang Benggali tunduk padanya, dan kapal serta muatannya juga menjadi milik Sultan.

Ia mengawali perjalanan dari mempawah pada tanggal 8 Rajab 1185 atau 17 Oktober 1771 Masehi. Berbicara soal nama daerah yang “terilham” dari kejadian-kejadian yang sultan alami selama berlayar menuju daerah delta sungai (Kapuas), banyak sekali daerah yang diberi nama olehnya. Ketika waktu sholat Zuhur, ia singgah di tepi pesisir di daerah muara Sungai Peniti, daerah Kelapa Tinggi, Segedong. Di tempat itulah ia beri nama Tanjung Zohor (berasal dari kata Lohor/Dzhur/Zuhur.yaitu waktu sholat pada waktu siang hari, 12.00wib). Ketika malam, ia juga menelusuri daerah sekitar muara sungai tersebut apakah cocok atau tidak didirikan tempat peristirahatan. Pagi harinya dipastikan tempat itu tidak cocok didirikan tempat peristirahatan, karena pada malam harinya keris emas sultan jatuh ke sungai dan tidak dapat ditemukan. Karena itu, sungai tersebut diberi nama Sungai Dalam.
Perjalanan pun dilanjutakan pagi harinya. Pada 19 Rajab 1185, ia memasuki perairan sungai Kapuas dan menemukan sebuah pulau yang terapung (seperti batu) di tengah perairan Kapuas. Pulau itu diberi nama Pulau Batulayang. Karena hari sudah hampir malam, Sultan beserta rombongan 14 perahu Penjajab, menginap sebentar di pulau tersebut. Disini, mereka mendapat gangguan perompak yang dikenal dengan Hantu Kuntilanak.Dari malam, suara-suara menakutkan serta gangguan lainnya dialami oleh semua awak kapal hingga siang hari berikutnya.
Uniknya lagi disekitar perairan Batulayang, sultan menemukan meriam yang terombang-ambing (mengapung) di air. Meriam ini digunakan untuk menembak setiap daerah yang dianggap tempat persembunyian para Hantu Kuntilanak (dalam buku Perspektif Sejarah Berdirinya Kota Pontianak, halaman 58) Hantu Kuntilanak ini dianggap perompak yang bersembunyi disepanjang pesisir Kapuas, dan anak-anak sungai kecil lainnya.
Lima hari Sultan memerintahkan awaknya untuk menembaki setiap daerah yang diyakini menjadi “sarang” hantu perompak tersebut. Setelah dirasa cukup, karena gangguan hantu perompak itu sudah tidak ada, pada 14 Rajab 1185, tepatnya 23 Oktober 1771 Sultan dan rombongan memasuki daerah pesisir pertigaan sungai Kapuas, Landak, dan Muare’ Kapuas Kecil yang merupakan daerah delta sungai dengan daratan berlumpur (rawa-rawa) yang dipenuhi semak dan hutan yang lebat. Sultan memerintahkan awaknya untuk menembakan meriam dengan mesiu ke daerah yang dianggap cocok untuk didirikan tempat ibadah. (Bagi bangsa Melayu, sebelum memulai pembangunan, bangunan pertama yang harus dibangun adalah Mesjid atau tempat ibadah. Disini, mereka melakukan istirahat, berkumpul, berembug, hingga menentukan jalan terbaik yang akan diambil selanjutnya).
Jatuhlah  mesiu tersebut di daerah yang sekarang dinamai Kampung Dalam Bugis (Kampong Dalam Buges’). Inilah Mesjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri

Mesjid ini dibangun dengan 6(eman) tiang seri atau tiang utama (dikenal dengan Sokoguru), dan 14 buah tiang penyangga.. Salah satu dari empat tiang tersebut merupakan pohon kayu belian yang masih utuh 




( masih memiliki akar yang tertancap di dalam tanah/ tidak ditebang ). Menurut berita dan kepercayaan masyarakat setempat, pohon kayu belian tersebut merupakan pohon tertinggi pada masa itu. Pohon itu juga merupakan sarang terbesar yang merupakan tempat berkumpulnya hantu perompak atau Hantu Kuntilanak. Konon, jika ada orang yang dapat  memeluk tiang seri tersebut dengan satu (depa) badan, niscaya permintaannya akan dikabulkan (kembali kepada keyakinan kalian masing-masing ya J). Bentuk dari bangunan ini juga terinspirasi dari bentuk bangunan China, Melayu, dan Jawa. Ciri utama bangunan ini merupakan mahkota seperti genta besar yang terdapat di paling atas mesjid yang terisnpirasi dari negeri Belanda. Ciri yang sama juga terdapat pada atas mesjid  yang bergaya Eropa. Mesjid ini merupakan mesjid tertua dan terbesar di Kota Pontianak. Berukuran panjang 33,27 meter, dan lebar 27,74 meter.

 


 Jika dilihat dari samping, bentuk Mesjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman seperti ini… Didepan mesjid ini juga terdapat pendopo/gazebo kecil yang berada di tepi sungai sebagai tempat berlabuhnya perahu-perahu. Gazebo ini juga sudah ada dari awal dibangunnya Mesjid Jami' Sultan Syarif Abdurrahman ini.


Dari daerah mesjid ini, kembali ditembakan mesiu yang kedua sebagai penanda tempat didirikan rumah peristirahatan yang kemudian dijadikan basis kesultanan baru tersebut. Tempat itu terletak kurang lebih 300 meter dari lokasi mesjid ini.
Seperti kesultanan Melayu lainnya, kesultanan Pontianak juga terdapat pendopo pengaman yang digunakan sebagai gerbang masuk istana sekaligus gerbang pengaman dalam istana..





Jalan menuju istana…

Dan ini dia istananya….


bagian selasar Istana Kadariah

selasar yang sudah direnovasi...sebelumnya tidak terdapat fevtilasi lingkaran dengan bulan sabit bintang seperti yang skarang ini..juga terdapat perubahan bentuk pintu :)^^


Untuk memberi nama daerah basis kesultanan barunya, Sultan Syarif Abdurrahman memberiinya nama Pontianak yang berasal dari nama Hantu Kuntilanak yang sering mengganggunya dan para pengawal saat akan mendirikan basis kesultanan baru ini. Sejak saat itu, Pontianak dengan Istana Kesultanan yang bernama Istana Kadariah ini ramai dikunjungi pedagang lokal dan asing. 


Sekarang usia Kota Pontianak sudah 240 tahun 
Tradisi menembakan meriam sebagai cikal bakal berdirinya Kota Pontianak tidak pernah memudar bahkan menghilang. Cikal bakal itu menjadikan meriam sebagai tradisi masyarakat pesisir Kapuas yang disebut perang meriam karbit. Perang Meriam Karbit biasanya diadakan dalam rangka menyambut puasa, pada malam takbiran, dan hari ini saat ulang tahun kota Pontianak. 



Meriam-meriam terbuat dari kayu berukuran besar disusun disepanjang sungai Kapuas dan Landak yang ditandai setiap meriam berjarak satu mesjid dari mesjid lainnya (mesjid sebagai patok/ batas perang meriam antara kampung/ kampong satu dengan kampong lainnya) yang ada disepanjang perairan Kapuas dan Landak. Dikatakan perang meriam karbit karena meriam ini disusun saling berhadapan antara sisi Timur dan sisi Barat Sungai Kapuas, sehingga menimbulkan kesan berperang. Menggunakan karbit sebagai bahan bakarnya, sehingga suara yang dikeluarkan sama dengan meriam mesiu  yang menghasilkan suara sangat besar dan menggelegar.
Meriam ini juga tidak setiap tahun diganti dengan kayu baru. Melainkan kayu meriam diberi obat (bahan kimia) agar awet, lalu direndam kembali di Sungai Kapuas setelah selesai dipakai. Ini menjadikan meriam-meriam tersebut tetap awet dan tahan hingga 15 (Lima belas) tahun pemakaian.
“Keberadaan kayu dan hutan yang semakin menipis juga tidak menghalangi tradisi yang unik dan SATU-SATUNYA DI INDONESIA, BAHKAN DUNIA ini menjadi memudar atau menghilang. Penggunaan batang kelapa yang sudah tua juga digunakan sebagai alternatif pengganti kayu belian/ kayu ulin yang semakin langka. Dengan kebijakan pengolahan sumber daya alam, masyarakat juga dapat memaklumi dan mensiasati tradisi ini agar tetap lestari.”
Pemerintah juga mendukung adanya tradisi pesisir Kapuas ini setiap tahun. Misalnya dengan mengadakan perlombaan meriam karbit yang diadakan dua tahun sekali, dengan criteria penilaian, bentuk meriam, hiasan, dan yang terpenting suara meriam yang dihasilkan. Semakin besar suara meriam, maka semakin baik kualitasnya. Walaupun perlombaan tersebut diadakan setiap dua tahun sekali, tapi tradisi ini tetap menjadi agenda tahunan pariwisata Kota Pontianak sebagai atraksi pariwisata yang memiliki ciri tersendiri (Uniquely), sebagai penarik wisatawan lokal dan mancanegara, dan sebagai media promosi agar Pontianak dikenal Indonesia dan dunia.


Sungai Kapuas Song on Malay’s Language
Ae’ Kapuas…
Hei…..sampan laju, sampan laju dari ile’ sampe’ ka’ hulu…
Sungai Kapuas,. Songgoh panjang dari dolok’ mambalah kote…
Hei tak disangke’ tak disangke’ dolok’ utan manjadi kote’…
Ramai pendudoknye..Pontianak  name kotenye…
            Sungai Kapuas punye cerite’…
            Bile kite minuom aek’ nye…
            Biar pon pergi jaoh kemane’…
Sunggoh susah nak ngelupakannye’….

Sungai Kapuas song’s translate on Indonesia
Judul: Ae’ Kapuas
Hai….perahu laju….perahu laju, dari hilir sampai ke hulu…
Sungai Kapuas, sungguh panjang dari dulu membelah kota…
Hai….tidak disangka, tidak disangka dulu hutan menjadi kota…
Ramai penduduknya, Pontianak nama kotanya…
            Sungai Kapuas punya cerita…
            Jika kita minum airnya…
Walaupun pergi jauh kemana…
            Sungguh susah melupakannya…

Selamat Ulang Tahun (Happy Milad’s Day) Pontianak :D

EXSIST dikit ga Pa pa donk ya :D
He’s me…….


Esksis dulu di Kampong Laot Utara, tempat utama perayaan Festival Perang Meriam Karbit Pontianak. Satu atau dua minggu setelah gambar ini diambil, meriam-meriam tersebut akan diawetkan dengan cara direndam kembali ke sungai Kapuas. Proses perendaman ini merupakan proses pengawetan agar meriam-meriam tersebut dapat digunakan kembali di tahun berikutnya.




Di Kesultanan Kadariah Pontianak…(lagi direnovasi, jadi ga bias masuk ke dalamnya) bangunan ini masih asli loh kawan….:) Kesultanan ini sudah mengalami perubahan bentuk kurang lebih 3 kali setelah ia dibangun. Yang saya tahu, pada awal berdirinya, Istana Kadariah tidak memiliki plafon atas, lalu dibangun plafon atas seperti yang ada pada gambar, perubahan bentuk karena pemerintah Belanda melarang istana ini berukuran besar, lalu Istana dikecilkan ukurannya mendadi 3/4 kali ukuran semula, dan yang terakhir merenovasi bentuk pintu masuk utama menuju balairung utama istana. (dari berbagai sumber) o...ia, meriam yang saya pegang itu adalah Meriam Apung yang ditemukan Sultan Abdurrahman terapung-apung di perairan Batulayang di sekitar pesisir Kapuas loh... :)


Bergambar dengan anak-anak yang tinggal disekitar Mesjid Jami’. Namanya Raja,Andi, Kiki….yey (Y) dapat kenalan baru disini. Orang-orang disni ramah-ramah, kalau dipanggil…”bang./dek.” dijawabnya “yok dek/bang…”

IS KIND TO VISIT PONTIANAK...let's come with us, we present you with regards ^_^
pontianaktourism.iskindweinculture.blogspot.com
entry: Minggu, 23 Oktober 2011
All Right Reserved @2011 bayu prakoso
e-mail: cakrodowinya@gmail.com

------S.E.L.E.S.A.I-----


Minggu, 02 Oktober 2011

Harapan Saya Akan Pariwisata Pontianak

Berbeda dengan kota-kota lain yang sudah menggalakan tahun kunjungan wisata dalam "VISIT" pariwisata mereka. Pemerintah Kota Pontianak di tahun 2011 ini sedang giatnya melakukan pembenahan infrastruktur pariwisata dan penambahan tempat-tempat wisata baru. Tahun ini juga dibuka waterboom baru di daerah Kota Baru, dan mendesain ulang kawasan PWC (Pontianak Waterfront City) hingga menjadi indah dan nyaman dikunjungi wisatawan, baik yang ingin berwisata, berbelanja, ataupun sekedar bersantai menikmati indahnya panorama Sungai Kapuas dan air mancur barunya.

Sebuah logo pariwisata sederhana non comercial saya hadirkan dalam blog ini,
karena saya ingin sekali melalui logo ini banyak yang dapat mengenali Kota Pontianak terutama maskot dan pariwisatanya melalui blog saya ini. Namun saya juga mengizinkan jika terdapat instansi terkait yang ingin menggunakannya sebagai ajang promosi kebudayaan dan pariwisata.



Sama dengan daerah-daerah lain di Kalimantan Barat, penggunaan Burung Enggang Gading tetap menjadi yang terpopuler. Pada logo ini juga ditambahkan bunga berkuntum 5 yang menjadi lambang persatuan dengan satu lingkaran yang menjadi jatidiri masyarakat pontianak perlambang pluralisme dan persatuan, tiga ekor berwarna  yang melambangkan 3 budaya besar di Pontianak, mata berwarna hitam yang melambangkan pusat (khatulistiwa), sayap atas berwarna hijau perlambang hutan dan daerah yang masih menghijau, sayap bawah berwarna ungu melambangkan kemegahan sungai kapuas, sayap berwarna biru melambangkan sungai landak, dan topi yang melambangkan Pontianak sebagai kota yang patuh terhadap aturan-atauran. Tulisan "PONTIANAK, is kind khatulistiwa city" melambangkan perkenalan sederhana pada lambang ini yang menyatakan PONTIANAK sebagai Kota yang memiliki keberagaman dan keindahan di bawah lintasan Khatulistiwa..

Melalui lambang ini pula, saya sangat apresiasi terhadap pemerintah untuk menggalangkan Visit Pontianak ditahun mendatang, dengan logo dan lambang yang kiranya lebih baik lagi :) salam pariwisata...

PONTIANAK, is kind khatulistiwa city